Oleh: Imam Asyari, S.Ag., M.Pd *)
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ
اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى
وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ
مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ
الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ (
البقرة/۲: ١٨٥)
Artinya: Bulan Ramadan adalah
(bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan
yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya
atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam
perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang
ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu
dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu
bersyukur.
(Al-Baqarah/2:185)
SEJARAH
NUZULUL QUR’AN
Peristiwa turunnya wahyu pertama berupa QS. Al-Alaq: 1-5 terjadi pada
malam tanggal 17 Ramadhan 13 tahun sebelum Hijrah. Saat itu Nabi Muhammad SAW
sedang bertahnnuts dengan cara menyendiri di Gua Hira Jabal Nur Makkah. Ritual
yang dikenal sebagai ‘uzlah atau kontemplasi dilakukan untuk menjauh dari
interaksi dengan masyarakat karena terkontaminasi oleh tradisi jahiliyah yang
sangat terbelakang. Perjalanan spiritual ini ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW
semata-mata agar mendapatkan petunjuk dari Alloh SWT melalui tuntunan yang
diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS.
Dalam Kitab Nurul Yaqin fi Siroti Sayyidil Mursalin halaman 19
Syekh Muhammad Al Khudlori Bik mengatakan; “Saat Nabi menginjak usia matang,
yakni 40 tahun, Alloh mengutusnya untuk alam semesta seraya menggembirakan dan
memperingatkan untuk mengeluarkan mereka dari gelapnya kebodohan menuju cahaya
ilmu”. Peristiwa ini diyakini terjadi pada malam 17 Ramadhan tahun 610 M. Dalam
misi kesendirian (khalwat) ini Nabi akhirnya mendapat wahyu pertama berupa 5
ayat pertama Surat Al Alaq:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ
الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ
الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ
يَعْلَمْۗ ( العلق/٩٦: ٥-١)
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! (1)
Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.(2) Bacalah! Tuhanmulah Yang
Mahamulia, (3) yang mengajar (manusia)
dengan pena.(4) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.(5) (QS. Al
Alaq/96: 1-5)
Hikmah dari peristiwa turunnya Al-Qur’an yang masyhur disebut Nuzulul
Qur’an saat usia Nabi menginjak angka 40 tahun antara lain:
1. Usia kematangan manusia untuk menemui jati dirinya adalah 40 tahun,
maka hendaknya di usia belasan sampai 39 tahun harus menempa diri dengan gigih
untuk menuntut ilmu sebagai bekal hidup
dan kehidupan di dunia sampai akhirat.
2. Media muhasabah (intospeksi) yang efektif adalah berkhalwat atau
‘uzlah dengan menenangkan diri dari hiruk pikuk kehidupan dunia sehingga bisa
merenung dan menghayati jati diri kehidupan dunia untuk keselamatan hidup di
akhirat.
3. Al Qur’an diturunkan pertama berupa Surat Al-Alaq: 1-5 yang diawali
perintah “membaca” yang dalam kontek luas berarti membaca ayat-ayat qauliyah
(firman Alloh SWT) dan ayat-ayat kauniyah berupa alam ciptaan-Nya dan peristiwa
yang mewarnainya.
LAILATUL QODAR BILAKAH KEJADIANNYA ?
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ
لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ
خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ( القدر/٩٧: ١-٣)
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya
(Al-Qur’an) pada Lailatulqadar (1).
Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? (2) Lailatulqadar itu lebih baik
daripada seribu bulan.(3)
(Al-Qadr/97:1-3)
Lailatul Qodar secara bahasa artinya malam mulia, malam sempit atau
malam ketetapan. Menurut Ulama pakar tafsir Prof. Dr. M. Quraish Shihab malam
Lailatul Qodar artinya malam mulia karena kemuliaannya melebihi seribu bulan.
Lailatul Qodar juga diartikan malam yang sempit karena seluruh malaikat
berbondong-bondong turun ke dunia sampai waktu subuh. Begitupun Lailatul Qodar
diartikan malam ketetapan karena Al Qur’an diturunkan pada malam tersebut
sebagai ketetapan hidup yang diberikan Alloh kepada umat manusia.
Firman Alloh pada ayat 1 surat Al Qodar menjelaskan bahwa Alloh
menurunkan Al Qur’an pada malam Lailatul Qodar. Sepintas keterangan tersebut
menarik kesimpulan bahwa malam Lailatul Qodar terjadi pada malam turunnya Al
Qur’an atau Nuzulul Qur’an yakni malam tanggal 17 Ramadhan. Guru besar Tafsir
Universitas Al Azhar Cairo Mesir, Muhammad Sayyid At Tanthawi memahaminya
sebagai dua macam proses Al Qur’an diturunkan. Pertama, Al Qur’an diturunkan
dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia pada malam Lailatul Qodar yang detil
waktunya merupakan hal gaib, hanya Alloh yang tahu. Kedua,wahyu pertama dalam
Al Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW saat ‘uzlah di Gua Hira Makkah
melalui perantaraan Malaikat Jibril pada malam tanggal 17 Ramadhan 610 M.
Para Ulama kemudia berselisih pendapat tentang apakah malam Lailatul
Qodar terjadi hanya sekali dalam sejarah yakni saat turunnya Al Qur’an ataukah
berulang terjadi setiap tahun ? Sebagian ulama berasumsi bahwa malam mulia atau
Lailatul Qodar hanya terjadi sekali saat Al Qur’an diturunkan atau Nuzulul
Qur’an, namun jumhur ulama meyakini malam Lailatul Qodar terjadi berulang
setiap tahunnya. Adapun detil tanggal pastinya serta harinya menjadi misteri dan
dirahasiakan oleh Alloh SWT. Tidak satupun ulama yang berani menjamin kebenaran
asumsinya terkait ketepatan tanggal peristiwa Lailatul Qodar tiap tahun. Dalam
beberapa sumber hadits Nabi tidak secara paten menyebutkan kapan malam mulia
itu menyapa umatnya tiap tahun. Artinya Nabi tidak merinci pada penetapan satu
waktu berupa tanggal terjadinya Lailatul Qodar. Jika merujuk pada QS. Al Qodar:
1 mestinya malam mulia terjadi paten tiap malam tanggal 17 Ramadhan saat
peringatan Nuzulul Qur’an, sepaket peristiwa Nuzulul Qur’an ya Lailatul Qodar.
Dari ragam asumsi, perbedaan pendapat ulama yang bermunculan terkait
malam mulia di setiap tahun pasca Nuzulul Qur’an tahun 610 M, mengerucut pada
rentang waktu di akhir bulan Ramadhan. Nabi Muhammad SAW memberi rambu-rambu
waktu berupa rentang tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir bulan suci
Ramadhan. Hal ini sebagaimana sabda beliau dalam hadits:
تحروا ليلة القدر فى الوتر من العشر الاواخر
من رمضان (رواه البخارى)
Artinya: Carilah malam Lailatul Qodar itu pada malam ganjil sepuluh
terakhir di bulan Ramadhan. (HR. Bukhori)
Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa malam mulia akan terjadi di
antara tanggal 21. 23. 25, 27 dan 29 Ramadhan setiap tahunnya. Spekulasi detil
hari dan tanggal kejadian Lailatul Qodar masih menyelimuti misteri dan muncul
pertanyaan dari 5 (lima) tanggal ganjil akhir Ramadhan, mana yang paling dekat
dengan kebenaran hari H malam mulia ? Ibnu Batthal dalam Syarah Sohih Bukhori
mengurai ragam pendapat para sahabat dan tabi’in tenang hal ini. Mereka
berpendapat bahwa malam mulia, Lailatul Qodar terjadi pada :
1. Tanggal 10 Ramadhan menurut
Ibnu Mas’ud
2. Tanggal 19 Ramadhan menurut Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas dan Zaid
bin Tsabit
3. Tanggal 21 Ramadhan menurut Abu Sa’id Al Khudri
4. Tanggal 23 Ramadhan menurut Abdullah bin Umar
5. Tanggal 24 Ramadhan menurut Aisyah, Ibnu Abbas dan Bilal bin Rabah
6. Tanggal 27 Ramadhan menurut HR. Ahmad dari Ibnu Umar
Opsi tanggal rincian datangnya malam mulia, Lailatul Qodar tiap tahun
berdasar pendapat para ulama merujuk hadits Nabi dan pendapat para sahabat dan
tabi’in di atas bisa menjadi referensi sekaligus pegangan bagi umat Islam di
era kekinian. Dari hadits riwayat Ahmad dijelaskan bahwa:
عن ابن عمر رضي الله عنه قال: قال رسول الله
صلى الله عليه وسلم من كان متحريها فليتحيرها ليلة سبع وعشرين (رواه احمد)
Artinya: Dari Ibnu Umar RA beliau berkata, bahwa Rasululloh SAW
bersabda: Siapa yang ingin mencari malam Lailatul Qodar maka hendaklah ia
mencarinya pada malam dua puluh tujuh. (HR. Ahmad)
Begitu juga dalam Tafsir Jalalain diterangkan bahwa tanggal ganjil sepuluh
hari terakhir Ramadhan yang disabdakan Nabi lebih condong kepada tanggal 27.
Asumsi ini diambil dari lafadz “Lailatul Qodar” yang terucap 3 kali dalam surat
Al Qodar. Rumus menentukan tanggal malam mulia Lailatul Qodar yang bobotnya
lebih baik dari 1000 bulan adalah 3x3x3=27. Barangsiapa beramal kebajikan di
malam Lailatul Qodar maka laksana ia beramal kebaikan dalam tempo 1000 bulan,
Adapun amalan doa yang sangat dianjurkan diperbanyak di malam Ramadhan untuk
berburu malam Lailatul Qodar adalah:
اللهم انك عفو تحب العفو فاعف عنى
Artinya: “Ya Alloh sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Pemaaf yang
cinta maaf, maka maafkanlah aku”.
Dari uraian panjang tentang Lailatul Qodar dapat disimpulkan bahwa :
1. Lailatul Qodar secara bahasa berarti malam mulia, malam sempit, malam
ketetapan
2. Lailatul Qodar menurut Al Qur’an adalah malam yang derajatnya lebih
baik dari 1000 bulan,
3. Waktu kedatangannya tidak dirinci hari dan tanggal pastinya, hanya
diuraikan rentang waktunya yakni 5 tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir
Ramadhan (21,23,25,27 dan 29). Ada juga yang meyakini kedatangannya di tanggal
lainnya; 10, 19 dan 24.
Adapun hikmah dirahasiakannya tanggal paten kedatangan Lailatul Qodar
adalah :
1. Lahirnya rangsangan bagi umat Islam untuk berebut agar mendapatkan
malam mulia.
2. Motivasi ibadah secara merata sepanjang sepuluh hari terakhir
Ramadhan. .
3. Kendali nafsu duniawi jelang lebaran dengan tetap kenceng beribadah
di masjid, musholla
Demikian tulisan sederhana tema Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qodar penulis
sajikan untuk mengisi ruang literasi web madrasah tercinta, Semoga berbuah
manfaat dan amal maslahat dunia sampai akhirat. Selamat memperingati Nuzulul
Quran dan selamat berjuang beburu Lailatul Qodar semoga meraih keberkahan dalam
menjalani amaliyah Ramadhan sampai meraih kemenangan dalam laga Idul Fitri
dengan predikat Muttaqin 'Aidin Fa’izin,
Selamat Idul Fitri 1447 H…Minal ‘Aidin wal Fa’izin…. Mohon Maaf Lahir
dan Batin…
Karangjati, 16 Ramadhan 1447 H
Penulis,
Imam Asy’ari, S.Ag., M.Pd.
*)Penulis
adalah GuruMapel SKI dan Kepala MTs Al Mukarromah Sampang Cilacap

Comments
Post a Comment